SUMSEL.WAHANANEWS.Co, - Jika kita kerap membaca unggahan di media sosial tentang betapa sulitnya mahasiswa menemui dosen pembimbing, maka dinamika tersebut sama sekali tidak berlaku dalam prinsip yang saya pegang.
Bagi seorang pendidik, sperti saya Dr.H.Akwam, M.Pd.I yang saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah YPI Lahat membimbing tugas akhir baik Skripsi untuk jenjang S1, Tesis untuk S2, maupun Disertasi untuk S3 bukan sekadar kewajiban formal yang diamanatkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen. Lebih dari itu, bimbingan adalah wujud komitmen moril. Bahkan termuat dalam Tridarma Perguruan Tinggi.
Baca Juga:
PT BAS Gelar Buka Puasa Bersama Santri Pesantren Nurul Madani di Muara Enim
Oleh karena itu, saya sangat menyayangkan jika masih sering mendengar keluhan mahasiswa yang merasa dipersulit atau dihalangi langkahnya hanya untuk sekadar bertemu dosen pembimbing (dosbing).
Bagi saya, membimbing mahasiswa adalah tugas yang mulia. Jika ditinjau dari kacamata agama, ini adalah bagian dari amal jariyah yang tak akan terputus pahalanya, yakni menyebarkan dan membagikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan bersama.

Menemukan "Jejak Pemikiran" dalam Karya Mahasiswa
Baca Juga:
Kades di Lahat Diduga Kumpulkan Dana Suap, Rp65 Juta Diamankan dalam OTT
Semangat ini makin terasa ketika saya membaca proposal skripsi milik mahasiswa STIT YPI Lahat, Ahmad Rifki Hakim, yang berjudul “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Film Biografi Buya Hamka Vol. 1”. Menurut saya, gagasan ini sangat luar biasa. Seorang mahasiswa mampu menangkap pesan mendalam dari sebuah film inspiratif, lalu mentransformasikannya menjadi sebuah karya ilmiah yang sistematis.
Menariknya, gagasan ini mengingatkan saya pada disertasi yang dulu saya susun, yaitu: “Relevansi Pendidikan Karakter Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dengan Pendidikan di Indonesia”. Ada benang merah yang kuat di sini. Baik film biografi maupun Tafsir Al-Azhar sama-sama mengusung sosok ulama dan pahlawan nasional terkemuka—Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama yang karya dan pemikirannya tidak hanya menjadi rujukan umat Islam di Indonesia, tetapi juga menggema hingga ke Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, bahkan Eropa. Sosok terkenal itu adalah Buya Hamka.
Membuka Ruang, Mempermudah Jalan