SUMSEL.WAHANANEWS.Co, — Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, bukan sekadar daerah penghasil batu bara. Dalam satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo, wilayah ini menjadi salah satu simpul penting dalam agenda besar pembangunan energi, konektivitas, dan hilirisasi industri nasional.
Jejak pembangunan itu terlihat dari hadirnya pembangkit listrik skala besar, pengembangan jaringan jalan tol hingga proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Sebagian telah beroperasi, sementara sebagian lainnya masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan kesinambungan kebijakan.
Baca Juga:
Konsultan Hukum PIK-2: Isu Pagar Laut Dimanfaatkan untuk Menyudutkan Jokowi
Salah satu proyek yang paling nyata adalah PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung. Pembangkit berkapasitas 2x660 megawatt (MW) tersebut mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 7 Oktober 2023.
PLTU Sumsel-8 dibangun PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP), perusahaan patungan PT Bukit Asam Tbk dan China Huadian Hongkong Company Ltd. Pembangkit ini menjadi bagian dari program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW dan memasok listrik ke sistem kelistrikan Sumatera. ([Kementerian ESDM RI][1])
Kehadiran pembangkit tersebut menunjukkan perubahan posisi Muara Enim dalam peta energi nasional. Batu bara tidak hanya keluar dari wilayah ini sebagai komoditas, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk menopang kebutuhan listrik kawasan Sumatera.
Baca Juga:
Prabowo Pilih Sejumlah Menteri Era Jokowi untuk Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya
Cerita pembangunan energi berlanjut di Kecamatan Rambang Niru melalui PLTU Mulut Tambang Sumsel-1 berkapasitas 2x300 MW. Proyek ini dikembangkan oleh PT Shenhua Guohua Lion Power Indonesia bersama CHN Energy dan Bomba Group.
PLN sebelumnya mengoperasikan jaringan transmisi 275 kilovolt yang menghubungkan PLTU Sumsel-1 dengan sistem kelistrikan Sumatera Selatan. Pengoperasian jaringan tersebut menjadi bagian penting dari proses komisioning pembangkit dan penguatan keandalan pasokan listrik regional. ([PLN][2])
Bagi Muara Enim, dua pembangkit tersebut membawa pesan ekonomi yang lebih besar: daerah penghasil batu bara ditempatkan dalam rantai pasok energi nasional, sekaligus menjadi kawasan yang memiliki infrastruktur energi berskala besar.