Menurut Toni, ada 200 pabrik pengolahan tebu di daerah Matur dan Canduang yang masih menggunakan captive power.
“Peralihan menggunakan mesin bermotor listrik ini akan membuat penggilingan tebu menjadi lebih modern dan berteknologi canggih sehingga produksi meningkat,” kata Toni.
Baca Juga:
Lisdes 2026 Digenjot Jadi Rp10,3 Triliun, ALPERKLINAS: PLN Hadirkan Keadilan Energi hingga Desa Terpencil
Peralihan ke mesin listrik juga akan mengurangi tingkat kehilangan hasil atau susut panen yang masih tinggi.
Peralihan itu menjadi bentuk penerapan electrifying agriculture yang selama ini terbukti mampu meningkatkan hasil produksi. Juga, mengurangi polusi yang dihasilkan oleh mesin diesel. Dengan peningkatan produksi itu, otomatis penghasilan pengusaha ikut bertambah.
“Harapan kami ke depan para pengusaha penggilingan tebu seluruhnya semakin terbuka wawasan serta pengetahuan untuk beralih dari pola pengolahan tebu yang konvensional menjadi modern dengan mekanisme penggerak gilingan tebu berbasis listrik yang lebih menguntungkan dan bebas polusi udara,” ungkap Herry.
Baca Juga:
Pemerintah Pastikan Listrik RI Tetap Menyala, Amankan 141 Juta MT Batu Bara
Pelaksanaan Hari Bumi 2022 tersebut dihadiri Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Unit Induk Wilayah Sumatera Barat, Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah dan UIKL Sumatera Bagian Selatan.[gab]