SUMSEL.WAHANANEWS.CO. Pagar Alam – Peringatan serius disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pagar Alam, Diky Aprizal, di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatera. Dalam beberapa hari terakhir, banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dan kondisi ini menurutnya harus menjadi alarm kewaspadaan bagi Kota Pagar Alam.
Diky menekankan bahwa Pagar Alam memiliki kontur wilayah perbukitan dan sejumlah titik rawan longsor. Jika keseimbangan lingkungan terganggu, potensi bencana serupa sangat mungkin terjadi.
Baca Juga:
Maksimalkan Pengamanan, Kapolres Pagar Alam Turun Langsung Ke Kawasan Wisata Gunung Dempo
“Bencana yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar itu bukan tidak mungkin terjadi di Pagar Alam jika kita abai. Kerusakan lingkungan, pembukaan lahan tanpa kontrol, penebangan pohon, pendangkalan sungai, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan adalah pemicunya,” tegas dia, Kamis (4/12/2025).
Diky menjelaskan bahwa DLH bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya pencegahan. Sejumlah program telah digencarkan, mulai dari kampanye penanaman sejuta pohon pinus, pemantauan titik rawan bencana, hingga edukasi lingkungan ke masyarakat.
Namun, ia menegaskan bahwa berbagai upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa partisipasi aktif warga.
Baca Juga:
Tutup Tahun 2025, Kejari Pagar Alam Tahan Lima Tersangka Korupsi Proyek PUTR, Siapkan Kejutan Awal 2026
“Kami terus berupaya, namun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat sangat penting, jangan membuang sampah sembarangan, jaga kebersihan aliran sungai, dan ikut serta dalam gerakan penghijauan,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tetap waspada selama musim hujan, terutama bagi warga yang bermukim di bantaran sungai dan lereng bukit. Tanda-tanda awal bencana seperti retakan tanah, pohon miring, atau debit sungai meningkat harus segera dilaporkan.
Dikutip dari Berita Antara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan merilis bahwa tiga daerah, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Kota Pagar Alam, dan Kota Prabumulih telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi.