"Dalam komitmennya untuk mewujudkan Program TJSL yang dapat memberikan dampak maksimal kepada masyarakat, kami menilai bahwa Social Mapping ini penting dilakukan. Hal ini untuk mengetahui dan memahami dinamika masyarakat pada lokasi Program Sosial dan Lingkungan PLN, serta untuk memetakan para pemangku kepentingan beserta peran dan pengaruhnya dalam kerangka harmonisasi hubungan antar pemangku kepentingan/stakeholder," ungkap Sendy.
Lebih lanjut, Sendy menjelaskan bahwa Program kerjasama PT PLN (Persero) UIW S2JB dengan Tim Ahli dari Universitas Sriwijaya ini akan dilakukan secara serentak di wilayah 'Ring 1' unit-unit PLN di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu: pada 3 (tiga) Unit Pelaksana Pelayananan Pelanggan dan 21 Unit Layanan Pelanggan (ULP) yang terdapat di 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
Baca Juga:
Diskon 50 Persen Tarif Listrik Tidak Diperpanjang, Ini Informasi Lengkapnya
"Selain untuk mengetahui kebutuhan dasar masyarakat dilingkungan operasi perusahaan, potensi sumber daya dan modal sosial masyarakat, juga untuk mengenal stakeholder dalam kaitannya dengan keberadaan dan aktivitas pelaku dalam program yang akan dijalankan, mengidentifikasi akar permasalahan yang dirasakan komunitas masyarakat, serta menganalisis potensi konflik yang terdapat di masyarakat,' ungkanya.
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan Social Mapping ini sendiri antara lain: Terdeskripsinya kondisi sosial masyarakat (komunitas) di wilayah kajian dari berbagai aspek sosial yang ada dalam masyarakat dan karakteristik individu; Terdeskripsinya potensi sumberdaya yang ada dalam masyarakat yang dapat dijadikan peluang usaha dan pengembangan masyarakat; serta tersusunnya rekomendasi jenis program/kegiatan yang harus dilakukan PLN ke depan dalam upaya penyeimbangan kondisi ketiga aspek dalam penyediaan listrik oleh PT PLN UIW S2JB, yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Melalui social mapping diharapkan program berikutnya yang akan dilakukan dapat didesain sesuai dengan karakteristik permasalahan dan kebutuhan masyarakat yang dinamis dan beragam serta berbasiskan pada potensi sumberdaya lokal.
Baca Juga:
Gebrakan 100 Hari, Presiden Prabowo Resmikan 37 Proyek Ketenagalistrikan Nasional
Karena itu, pemetaan sosial harus menjadi bagian dari perencanaan, sehingga diharapkan program yang dijalankan akan tepat sasaran, efektif dan berkelanjutan (sustainable).
"Selain itu, diharapkan manfaatnya akan lebih maksimal dengan meminimalkan potensi konflik antar pemangku kepentingan yang dapat menghambat kegiatan operasional perusahaan, sehingga terwujud sinergi dan kohesi sosial yang memadai. Sehingga, dari kegiatan ini nantinya akan dihasilkan output yang dalam penggunaannya dapat dikolaborasikan dengan output program lainnya yang serupa, guna penyempurnaan kegiatan/program selanjutnya pada wilayah-wilayah target dari PT PLN (Persero) UIW S2JB," tutup Sendy.[gab]