SUMSEL.WAHANANEWS.Co,Muara Enim — Upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit paru, khususnya Asma, terus diperkuat di Kabupaten Muara Enim. Hal ini ditandai dengan pembentukan Yayasan Asma Indonesia (YAI) Cabang Muara Enim yang menggelar rapat pengurus perdana, Minggu (26/4/2026).
Rapat yang berlangsung di Ballroom SJAS Muara Enim tersebut menjadi momentum awal konsolidasi organisasi sekaligus penyusunan program kerja periode 2026–2031. Kegiatan itu dihadiri jajaran pengurus, termasuk Wakil Ketua I YAI, A Dessi Puspa Asni.
Baca Juga:
PKMP Lawang Kidul Terkendala Lahan, Gerai Koperasi Belum Tersedia
Ketua YAI Kabupaten Muara Enim, dr. Hj. Siti Maisaroh, mengatakan pembentukan yayasan dilatarbelakangi kebutuhan masyarakat akan edukasi dan pendampingan terkait penyakit asma yang dinilai masih belum optimal.
“Asma masih sering disalahpahami, baik dari sisi penanganan maupun pengendaliannya. Karena itu, kami ingin hadir memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat,” ujar Siti Maisaroh.
Ia menjelaskan, rapat perdana tersebut difokuskan pada penguatan struktur organisasi serta perumusan program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. YAI Muara Enim, kata dia, akan menitikberatkan kegiatan pada penyuluhan kesehatan, konsultasi, hingga aktivitas fisik seperti senam asma.
Baca Juga:
Rotasi Dandim 0404 Muara Enim, Letkol Kav Sahid Winagiri Resmi Jabat Komandan Baru
Program tersebut dirancang untuk membantu penderita dalam mengelola penyakitnya secara berkelanjutan. Menurut Siti, asma bukan penyakit yang tidak dapat dikendalikan, selama pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan menjalani pola hidup sehat.
“Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa asma bisa diobati dan dikendalikan. Bahkan, pengobatannya dapat memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan sehingga lebih mudah diakses,” katanya.
Selain itu, YAI juga berencana menghadirkan program pendampingan bagi penderita asma. Pendampingan ini dinilai penting untuk memastikan pasien memperoleh informasi yang tepat sekaligus dukungan selama menjalani terapi.
Di sisi lain, organisasi tersebut juga akan mengembangkan kegiatan di bidang olahraga dan prestasi. Sejumlah agenda seperti senam asma, lomba kesehatan, hingga pembinaan komunitas diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita sekaligus memperluas jangkauan edukasi publik.
“Senam asma bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari terapi yang dapat membantu memperbaiki fungsi pernapasan,” ujarnya.
Pada bidang pendidikan dan pelatihan, YAI Muara Enim berencana menggencarkan sosialisasi mengenai asma kepada masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan sekaligus mencegah kesalahan penanganan yang kerap terjadi.
Pembentukan YAI Cabang Muara Enim juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui sejumlah instansi, antara lain Dinas Kesehatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta organisasi keolahragaan seperti KORMI dan KONI. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program, baik dari sisi pembinaan maupun anggaran.
Sebagai organisasi sosial, YAI telah berdiri sejak 1986 dan mengalami penguatan kelembagaan pada 1993. Secara hukum, yayasan ini diperbarui melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada 2012.
Dalam waktu dekat, kepengurusan YAI Kabupaten Muara Enim periode 2026–2031 dijadwalkan akan dikukuhkan. Dengan terbentuknya kepengurusan tersebut, YAI diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak utama dalam edukasi dan penanganan asma di daerah, sekaligus menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan berbasis komunitas.
(Hendrik Isnaini R)