SUMSEL.WAHANANEWS.Co,Prabumulih - Kekhawatiran seorang ibu terhadap masa depan lingkungan tempat tinggalnya berbuah perubahan nyata. Lahan terbengkalai seluas 1.500 meter persegi di Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat, kini menjelma menjadi kebun produktif yang menopang kebutuhan pangan sekaligus ekonomi warga.
Inisiatif tersebut digagas Rini Setia Budi (51), yang resah melihat lahan kosong di lingkungannya kerap dimanfaatkan untuk aktivitas negatif. Alih-alih berdiam diri, Rini mengajak para ibu rumah tangga setempat untuk bergerak melalui pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bougenville sejak 2020.
Baca Juga:
Benarkah Geothermal Picu Gempa? Ini Penjelasan Resmi PGE Ulubelu
Awalnya, keterbatasan pengetahuan di bidang pertanian menjadi tantangan utama. Namun, upaya tersebut mendapat dukungan dari Pertamina EP (PEP) Limau Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (Niat Mila).
Melalui program tersebut, anggota KWT Bougenville mendapatkan pelatihan pertanian organik serta bantuan sarana dan prasarana. Hasilnya, lahan yang sebelumnya tak terurus kini ditanami berbagai komoditas seperti kangkung, sawi, hingga buah markisa.
Tak hanya itu, kelompok yang beranggotakan 20 perempuan tersebut juga mengembangkan tanaman obat keluarga (toga) seperti kunyit, jahe, kencur, laos, cassia, dan lidah buaya. Produksi pangan mandiri ini mampu menekan pengeluaran rumah tangga warga hingga Rp500 ribu per bulan.
Baca Juga:
Pengembangan Sumur TMB-028 di Muara Enim Berhasil, Suntikan Baru untuk Produksi PEP Limau Field
Transformasi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan pendampingan lanjutan dari PEP Limau Field, KWT Bougenville berhasil mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Sedikitnya 18 produk telah dihasilkan, di antaranya minuman serbuk Serjale (serai jahe lemon), Kunwak (kunyit temulawak), serta minuman segar Verranas berbahan lidah buaya dan nanas.
Dari usaha tersebut, kelompok kini mampu menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan yang dikelola sebagai kas bersama.
Rini mengaku, perubahan yang terjadi tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga menghadirkan ruang yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak di lingkungannya.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Iwan Ridwan Faizal, menyatakan bahwa keberhasilan KWT Bougenville menjadi contoh nyata efektivitas program pemberdayaan berbasis masyarakat.
Menurutnya, program Niat Mila dirancang untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus memperkuat aspek sosial dan lingkungan. “Kami ingin memastikan kehadiran perusahaan memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Pendekatan pemberdayaan yang dijalankan PHR Zona 4 Limau Field menitikberatkan pada keberlanjutan, tidak sekadar bantuan sesaat. Program tersebut mengintegrasikan peningkatan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan struktur sosial sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang mandiri.
(Redaktur: Hendrik Isnaini R)