Ia juga menjelaskan bahwa tingginya frekuensi perjalanan kereta api, khususnya angkutan logistik, menyebabkan waktu penutupan perlintasan menjadi lebih lama. Dalam satu rangkaian angkutan batu bara, misalnya, perlintasan dapat tertutup sekitar enam menit. Apabila dua kereta melintas secara berurutan, waktu penutupan bisa mencapai sekitar 12 menit sehingga berdampak pada kelancaran lalu lintas.
"Kondisi ini tentu memengaruhi kenyamanan masyarakat. Karena itu, kami mempercepat pembangunan infrastruktur pengamanan agar risiko kecelakaan dapat ditekan sekaligus mengurangi dampak kemacetan," jelasnya.
Baca Juga:
KAI Mau Pakai Teknologi Automatic Train Protection Cegah Tabrakan Kereta Api Terulang
Selain pemasangan palang pintu, PT KAI juga menargetkan pembangunan lima flyover di Kabupaten Muara Enim selesai dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Kehadiran infrastruktur tersebut diharapkan menjadi solusi permanen untuk menghilangkan konflik antara perjalanan kereta api dan kendaraan di perlintasan sebidang.
I Gede berharap seluruh proyek dapat berjalan sesuai jadwal dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar program peningkatan keselamatan transportasi ini dapat segera dirasakan manfaatnya oleh warga.
"Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar seluruh pekerjaan berjalan lancar. Tujuan utama kami adalah menghadirkan transportasi kereta api yang aman sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar perlintasan," tuturnya.
Baca Juga:
KAI Commuter Bandung Bakal Tindak Tegas Perokok Diatas Kereta Api
(Redaktur: Hendrik Isnaini R)