SUMSEL.WAHANANEWS.Co,Muara Enim – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Muara Enim, Iwan Kurniawan, menilai antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Muara Enim bukan lagi sekadar persoalan pelayanan publik. Fenomena yang terjadi hampir setiap hari itu dinilai menjadi indikator bahwa kapasitas infrastruktur distribusi BBM sudah tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan jumlah kendaraan di daerah.
Menurut Iwan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah, PT Pertamina Patra Niaga, serta investor. Sebab, antrean panjang menunjukkan adanya permintaan (demand) yang tinggi terhadap layanan distribusi BBM.
Baca Juga:
Menjaga Stabilitas Keuangan Pasca-Lebaran: Waspadai Pinjaman Online!
"Kalau antrean terjadi setiap hari, itu artinya kebutuhan masyarakat terhadap BBM sudah melampaui kapasitas pelayanan yang tersedia. Dari perspektif dunia usaha, ini merupakan sinyal bahwa Muara Enim membutuhkan investasi baru berupa penambahan SPBU," kata Iwan,dibincangi Sabtu (1/8/2026).
Ia mengatakan Kabupaten Muara Enim memiliki prospek investasi yang menjanjikan. Selain menjadi salah satu daerah penghasil energi terbesar di Sumatera Selatan, Muara Enim juga merupakan kawasan pertambangan, industri, serta jalur distribusi logistik yang memiliki mobilitas kendaraan relatif tinggi.
Aktivitas ekonomi yang terus tumbuh, menurut dia, harus diikuti dengan pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas distribusi BBM. Tanpa penambahan kapasitas layanan, antrean diperkirakan akan terus terjadi dan berpotensi menghambat efisiensi kegiatan ekonomi.
Baca Juga:
Seberapa Besar Pengaruh Pemengaruh dalam Perilaku Konsumen Indonesia
"Antrean BBM memiliki biaya ekonomi yang tidak kecil. Kendaraan angkutan barang kehilangan waktu operasional, pelaku usaha terlambat melakukan distribusi, sementara produktivitas masyarakat ikut menurun. Kondisi seperti ini tentu memengaruhi iklim investasi karena efisiensi menjadi salah satu pertimbangan utama dunia usaha," ujarnya.
Iwan mendorong pemerintah daerah untuk lebih proaktif membuka peluang investasi di sektor hilir migas dengan memfasilitasi komunikasi antara Pertamina dan badan usaha yang berminat membangun SPBU baru di Muara Enim.
Menurutnya, penambahan SPBU, terutama yang beroperasi selama 24 jam, tidak hanya akan mengurangi antrean kendaraan, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendukung kelancaran aktivitas dunia usaha.
"Investor akan melihat bagaimana kesiapan infrastruktur di suatu daerah. Jika distribusi energi berjalan lancar, biaya logistik menjadi lebih efisien, mobilitas masyarakat meningkat, dan iklim usaha menjadi lebih kompetitif. Karena itu, pembangunan SPBU baru harus dipandang sebagai investasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.
Ia juga menilai keberadaan SPBU baru akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Selain menyerap tenaga kerja, investasi tersebut akan mendorong tumbuhnya aktivitas perdagangan, jasa, transportasi, dan sektor pendukung lainnya.
"Muara Enim memiliki potensi ekonomi yang besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian menghadirkan investasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Penambahan SPBU bukan hanya soal menambah tempat pengisian BBM, tetapi juga membangun fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan," ujar Iwan.
KADIN berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dapat segera melakukan kajian kebutuhan SPBU di kawasan perkotaan Muara Enim. Dengan bertambahnya fasilitas distribusi BBM, antrean kendaraan dapat berkurang, produktivitas masyarakat meningkat, dan daya tarik investasi di Kabupaten Muara Enim semakin kuat.
(Redaktur: Hendrik Isnaini R)